Puisi Unggulan Sastra

Ular

Lesbumi 15 June 2026 pasongsongan, Puisi, Karya, ular
Ular

Oleh: Habibi*

Kau melilitku

di bawah pohon tak berpangkal itu

pohon yang, katanya, memenuhi ruang di surga

ketika aku bahkan belum mengenal huruf pertama dari namaku.

Lidahmu telah menipuku,

mengguncang dadaku

hingga aku dipisahkan dari kain Tuhan

dan berdiri telanjang.

Lelaki pertama itu tidak melihat

bagaimana kau mencium keningku,

lalu dadaku

kecuali hening yang merayap.

Hanya sekejap kau kembali melata

ke dalam lubang semak

yang sengaja dirusak

dan tak semua boleh tahu.

Tapi sekarang, perempuan itu jadi tahu

di dadanya tergambar bara api dan dua jeruk.

Dengan perut lapar

menyusuri hutan sepi

mencari yang mula-mula

melempar dadu ke nasibnya

mengucapkan Kun,

dan meninggalkannya

sebagai pendosa.

Dan ular itu telah kembali dungu

tak mampu bersaksi dan merayu

kecuali licin matanya

membawa semacam bara dalam kitab-kitab.


*Penulis adalah budayawan asal Pasongsongan, dikenal aktif di Lesbumi, tempat ia menumpahkan karya tulisannya. Karya-karyanya, baik berupa cerpen, esai, sudah tembus di bebagai media nasional.

Komentar

Tanggapan Pembaca

Komentar pembaca ditampilkan di bawah artikel agar alur baca tetap rapi. Semua komentar dimoderasi redaksi sebelum tayang.

0 komentar tayang

Belum ada komentar yang tayang di artikel ini. Jadilah pembaca pertama yang meninggalkan tanggapan.

Komentar yang masuk tidak langsung tayang. Redaksi akan memoderasi terlebih dahulu agar diskusi tetap sehat dan relevan.