Oleh: Habibi*
Kau melilitku
di bawah pohon tak berpangkal itu
pohon yang, katanya, memenuhi ruang di surga
ketika aku bahkan belum mengenal huruf pertama dari namaku.
Lidahmu telah menipuku,
mengguncang dadaku
hingga aku dipisahkan dari kain Tuhan
dan berdiri telanjang.
Lelaki pertama itu tidak melihat
bagaimana kau mencium keningku,
lalu dadaku
kecuali hening yang merayap.
Hanya sekejap kau kembali melata
ke dalam lubang semak
yang sengaja dirusak
dan tak semua boleh tahu.
Tapi sekarang, perempuan itu jadi tahu
di dadanya tergambar bara api dan dua jeruk.
Dengan perut lapar
menyusuri hutan sepi
mencari yang mula-mula
melempar dadu ke nasibnya
mengucapkan Kun,
dan meninggalkannya
sebagai pendosa.
Dan ular itu telah kembali dungu
tak mampu bersaksi dan merayu
kecuali licin matanya
membawa semacam bara dalam kitab-kitab.
*Penulis adalah budayawan asal Pasongsongan, dikenal aktif di Lesbumi, tempat ia menumpahkan karya tulisannya. Karya-karyanya, baik berupa cerpen, esai, sudah tembus di bebagai media nasional.