Oleh : Akhmad Jasimul Ahyak*
Di bawah lembah kaki besi yang sombong
Bumiku membungkuk, letih dan melepuh
Hijau hutan yang dulu menjadi mahkota
kini menjelma jadi abu, hangus menyisakan dusta
Sungai-sungai mengalirkan air mata hitam
menelan riak jernih dalam sunyi yang kelam
Tenggorokan bumi sesak oleh jelaga dan asap belerang
Ketita nyanyian burung perlahan hilang
Oleh tangan-tangan yang tak pernah kenyang
Rahim pertiwi dicabik
Dijarah penuh telanjang
Bumiku kini tampak hina penuh luka
Ditelantarkan oleh anak kandungnys sendiri
Dalam duka
langit tak lagi biru
hanya ada mendung murka membakar peluh bumi
kita berdiri di atas tanah yang sekarat
menanti waktu yang kian mendekat
Sampai kapan raga ini kau terus dustakan?
Hingga sejengkal nafas tak terselamatkan
*Penulis adalah budayawan, pelukis,dan penyair. Tulisanya telah muat di berbagai media, lokal dan nasional. Eksis di berbagai kegiatan budaya dan kesenian menjadi semakin semangat dalam berkarya.