Puisi Unggulan Sastra

Mendung

Redaksi Nuvoes 29 April 2026 Puisi, Sastra, Penyair, Karya, mendung
Mendung

Oleh : Zainal Purwanto*

Mendung,

Mengiring rintik pagi hari

Matahari tersedak air matanya sendiri

Jadi malas mengangguk pada pamit seorang pendaki mimpi

Hujan,

Merendam kaki nenek dengan kue cucur sebaki

Dagangan hari ini penyangga perut si yatim yang tak sempat terisi nasi

Cucunya sendiri

Di antara jerit klakson dan sopir yang marah karena lampu merah

Menatap seorang bocah dalam mobil meniup terompet naga, penanda akhir tahun segera tiba

Ah lupakan, ia mungkin hanya bisa meniup cerita sampai cucu terlena

Hujan november

Merendam mimpi nenek di lampu merah

Hasil jualan apa cukup ditukar nasi untuk berdua, dan terompet naga?

Sedangkan pembeli terganti lalat datang dan pergi

Klakson terus menjerit sepanjang pagi

Senyaring perut si yatim menunggu nasi

Hujan november

Mengguyur cerita di sebuah pagi

Seorang nenek dengan kue sebaki

Di antara jerit klakson dan sopir yang marah karena lampu merah

Pasongsongan, November 2021


*Penyair adalah penggiat di Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Pasongsongan. Berbagai tulisannya telah dimuat berbagai media. Saat ini penyair tinggal di Pasongsongan dan Lenteng, Kabupaten Sumenep.

Komentar

Tanggapan Pembaca

Komentar pembaca ditampilkan di bawah artikel agar alur baca tetap rapi. Semua komentar dimoderasi redaksi sebelum tayang.

0 komentar tayang

Belum ada komentar yang tayang di artikel ini. Jadilah pembaca pertama yang meninggalkan tanggapan.

Komentar yang masuk tidak langsung tayang. Redaksi akan memoderasi terlebih dahulu agar diskusi tetap sehat dan relevan.