Doa dari Tanah Halaman
Jika rindu bisa ditimbang,
maka bapak dan ibu telah menimbangnya
dengan peluh, dengan waktu, dengan sabar
untuk dua kota yang tak pernah berpaling
Makkah yang memanggil dalam cahaya,
Madinah yang menyimpan detak jantung sayyiduna Nabi Muhammad SAW.
Bertahun ia menanti dalam diam.
Kebutuhan dunia dipangkas pelan-pelan,
harapan disembunyikan di sela-sela rezeki,
hanya agar suatu hari nanti
kening boleh jatuh sujud di tanah suci,
dan bibir boleh menitipkan salam
yang tak pernah sampai lewat surat.
Lalu datanglah Covid-19,
membekukan dunia dengan satu tarikan napas.
Ka’bah sepi. Madinah kosong.
Ribuan rindu terhenti di ambang pintu,
dan kami hanya bisa menangis pada langit
yang seolah lupa membuka jalannya.
Bertahun kami menanti kabar.
Hati bertanya pelan:
“Apakah kami akan sempat?
Ataukah rindu ini akan mati bersama usia?”
Kini tahun 2026 memanggil nama Bapak dan Ibu
Panggilan itu datang, lembut tapi pasti.
Langkah bapak dan ibu dituntun ke tanah para kekasih,
kening kalian diizinkan bersujud di tempat
yang pernah dipijak kaki Baginda Rasulullah SAW.
Aku tertinggal di tanah halaman.
Tak bisa mengantar, tak bisa memeluk.
Maka kutitipkan seluruh nafasku pada doa
agar setiap sujud kalian membawa namaku juga,
agar setiap air mata kalian
mencuci rinduku yang tak pernah kering.
Sehatlah di sana, wahai bapak, Ibu.
Pulanglah dengan keberkahan yang cukup
untuk menutup seluruh rindu kami.
Karena aku mencintai tanah suci itu
lewat cinta kalian
dan rindu itu lebih dalam dari jarak yang memisahkan.
Sumenep, 2026
Rindu Tanah Haram
Ibu, Bapak, anakmu rindu di kampung halaman,
Rindu suara kalian yang mendoakan dalam diam.
Naik haji
Itulah angan setiap jiwa Muslim,
Menjejak tanah haram meski saku kosong tak bersisa.
Hanya iman dan harap yang menjadi bekal.
Bertawaf memutari Ka’bah,
Bibir basah melafadzkan: Labbaik Allahumma labbaik.
Bersa’i lari-lari kecil,
Menitipkan munajat di sela napas yang tersengal.
Di antara Shafa dan Marwah,
Kupeluk kerinduan yang tua,
Mengingat Hawa dan Adam,
Bertemu kembali atas takdir Sang Pencipta.
Kini aku hanya bisa menatap kalian
Lewat layar video call dan foto yang dikirim,
Berlatar Ka’bah yang megah,
Dan gunung-gunung yang tenang menyapa.
Doakan anakmu, Ibu, Bapak,
Agar sehat, tentram, dan selalu rukun,
Sampai nanti Allah mempertemukan
Rindu ini dengan tanah yang suci.
Sumenep, 2026
*Muhammad Abdul Ar-Ridha kelahiran Ambunten Timur Sumenep, 16 Oktober 1999 kini masih nyantri di BUQ Betengan Demak,
Dan pernah nyantri di Mathali'ul Anwar pangarangan Sumenep dan lulusan kampus UNIA Al-Amin prenduan Sumenep. Karya-karyanya sudah dimuat di beberapa media nasional.