Opini Artikel/Opini

Seni Mencintai Ala Sayyidina Ali

“Cinta diam adalah pilihan bijaksana untuk melindungi dan menjaga keikhlasan hati.”

Admin Nuvoes 10 May 2026 seni, kajian, opini
Seni Mencintai Ala Sayyidina Ali

Oleh : Moh. Deni Farizi*

Cinta adalah anugerah mulia yang Allah tanamkan dalam hati setiap hamba-Nya. Ia bukan hanya sekadar rasa, tetapi kekuatan yang mampu menggerakkan jiwa, melembutkan hati, dan mengubah arah hidup seseorang. Dalam setiap insan, terdapat fitrah untuk mencintai dan ingin dicintai. Namun, tidak semua cinta tumbuh dengan baik. Ada cinta yang lahir dari nafsu, yang berbisik penuh dengan hasrat, “ketika saya mencintainya. Maka, saya harus memilikinya” ada pula yang tumbuh dari keikhlasan dan ketulusan. Berkata lembut dalam diam, “Iya... saya mencintainya, akan tetapi saya tidak menuntut untuk memilikinya”

Kita masih keliru memahami cinta itu sendiri, keliru dalam mengapresiasikannya dan keliru dalam menyikapinya, Kita masih menuntut bahwa cinta harus ada timbal baliknya, seolah-olah cinta hanya layak diperjuangkan jika dibalas dengan sepadan. Padahal, cinta sejati tidak tumbuh dari tuntutan, melainkan dari sebuah keikhlasan.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sahabat sekaligus menantu Rasulullah, beliau dikenal sebagai sosok yang tidak hanya gagah perkasa dalam medan perang, tetapi juga lembut dalam tutur kata dan sangat dalam memahami makna cinta. Bagi beliau, cinta bukanlah sekadar memiliki, tetapi tentang memberi, menjaga, dan mendoakan dalam diam. Ia mengajarkan bahwa cinta sejati adalah cinta yang membawa seseorang semakin dekat kepada Allah, bukan membuat jauh dari-Nya.

Salah satu petuah Sayyidina Ali yang menggugah hati berbunyi:

“Cinta diam adalah pilihan bijaksana untuk melindungi dan menjaga keikhlasan hati.”

Petuah ini mengandung makna yang sangat mendalam. Dalam diam, seseorang mencintai tanpa mengganggu, memberi tanpa menuntut, dan mendoakan tanpa harus diketahui. Cinta dalam diam adalah cinta yang tidak mengharap balasan apa pun, tidak menuntut pengakuan, dan tidak mengikat. Ia hanya ingin yang dicintai bahagia, meski tanpa kehadiran dirinya. Cinta seperti ini adalah cinta yang agung, cinta yang terjaga dari nafsu belaka. Sebab bila memang takdirnya, maka serumit apa pun jalannya, akan menemukan jalan untuk bersama.

Cinta dalam diam bukanlah suatu pelarian, melainkan pilihan. Pilihan untuk menjaga hati tetap bersih, niat tetap lurus, dan cinta tetap suci. Ia adalah bentuk tertinggi dari kasih sayang yang tidak menuntut apa pun kecuali kebaikan bagi yang dicintai. Dan dalam cinta seperti itulah, seseorang belajar bahwa mencintai adalah tentang memberi, bukan mengambil, bukan menguasai, tentang mendekatkan diri kepada Allah. Karena ia yakin akan kuasa-Nya.

petuah lainnya dari Sayyidina Ali yang juga menyejukkan jiwa, yakni:

“Kusimpan cintaku dalam diam, kulisankan harapanku dalam doa, kuperjuangkan dirimu dalam rida-Nya.”

Betapa agung cinta yang tak meminta balasan, Namun tetap setia dalam pengharapan. Betapa indah cinta yang tak terlihat, namun terasa dalam setiap sujud dan lirih doa. Ia adalah cinta yang tidak menginginkan dunia, melainkan mengharap surga bersama.

Cinta seperti ini tidak melupakan Sang Pencipta demi mencintai ciptaan-Nya. Ia tidak menghalalkan segala cara demi bersama, melainkan menghalalkan hati untuk tetap berserah dan berdoa. Cinta bukanlah penjara yang membatasi langkah, melainkan ruang yang membiarkan jiwa menari di bawah lingkup kepercayaan. Ia tidak berkata, “Tetaplah di sini,” tetapi berbisik lirih, “Terbanglah sejauh yang kau mampu. Aku akan tetap mendoakanmu. Kembalilah jika engkau mau.”

Belajar dari Sayyidina Ali. Maka, jika hendak mencintai, cintailah dengan cara yang membuatmu semakin dekat kepada Sang Pencipta. Biarlah cinta itu menjadi jalan untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan memperluas kasih sayang. Karena cinta yang suci bukan hanya sedakar memiliki, melainkan tentang merelakan, mendoakan, dan mempercayakan segalanya kepada Allah yang Maha Mengetahui isi hati.


*Penulis adalah Mahasantri di Ma'had Aly Nurul Jadid Paiton, aktif menulis sejak SMA di Pon. Pes Mathaliul Anwar Sumenep. Salah satu karynya adalah Buku "Pantaskah Aku di Sebut Santri?". Kunjungi media sosialnya di ig: deni_alfarizi123

Komentar

Tanggapan Pembaca

Komentar pembaca ditampilkan di bawah artikel agar alur baca tetap rapi. Semua komentar dimoderasi redaksi sebelum tayang.

0 komentar tayang

Belum ada komentar yang tayang di artikel ini. Jadilah pembaca pertama yang meninggalkan tanggapan.

Komentar yang masuk tidak langsung tayang. Redaksi akan memoderasi terlebih dahulu agar diskusi tetap sehat dan relevan.