Oleh: Akhmad Jasimul Ahyak*
Salah satu jenis musik perkusi yang sangat digandrungi masyarakat Pasongsongan adalah musik tongtong. Musik tradisional ini telah lama menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari identitas budaya dan sejarah Deaa Pasongsongan. Karena itulah wajar jika musik ini memainkan peran sentral dalam setiap momentum di desa tersebut selama berabad-abad. Misalnya, pentas di berbagai upacara adat, perayaan, dan belbagai kegiatan budaya lainnya.
Pada Awal 1980-an, perkembangan musik tongtong di salah satu desa di Kabupaten Semenep itu telah berkemembang pesat secara signifikan meskipun pada awalnya dimainkan secara sederhana. Seiring dengan kemajuan zaman, musik tradisional ini juga dikemas dengan cara modern, baik dalam pengadaan alat-alat musiknya hingga cara memainkannya.
Musik Tongtong ini memiliki ciri khas tersendiri, dengan alat musik tradisional yang digunakan untuk menciptakan melodi dan irama yang menghantarkan pesan dan makna dalam berbagai konteks. Lebih dari sekadar sebuah bentuk seni, musik Tongtong mengandung warisan budaya yang mendalam yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, seperti banyak tradisi budaya lainnya, musik Tongtong Pasongsongan dihadapkan pada tantangan dalam menjaga keberlanjutannya di dunia yang terus berubah. Generasi muda di Desa Pasongsongan memegang peranan penting dalam menjaga dan melestarikan tradisi ini untuk masa depan. Mereka berperan dalam meresapi nilai-nilai, teknik, dan pentingnya musik Tongtong dalam konteks budaya mereka, sambil berkontribusi pada upaya untuk mengembangkan dan memodernisasi warisan ini agar tetap relevan dan hidup di zaman ini.
Asal-usul Kesenian Tongtong di Pasongsongan
Musik Tongtong Pasongsongan adalah salah satu bentuk seni tradisional yang sangat erat kaitannya dengan sejarah dan budaya Desa Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Asal-usul musik Tongtong ini dapat ditemukan dalam berbagai pertunjukan modern dan berkembang yang telah diteruskan dari generasi ke generasi.
Menurut cerita warga setempat, musik Tongtong berasal dari praktik-praktik perayaan dan upacara adat yang telah ada di wilayah ini sejak zaman dahulu. Alat musik Tongtong yang terbuat dari bambu dan kayu ini awalnya digunakan dalam upacara-upacara tradisional, seperti upacara adat pernikahan, ritual keagamaan, atau perayaan panen.
Seiring berjalannya waktu, musik Tongtong semakin berkembang dan mengalami transformasi. Alat musik yang semula sederhana diperkaya dengan inovasi-inovasi yang memungkinkan penciptaan melodi dan irama yang lebih kompleks. Musik Tongtong juga mulai diiringi oleh nyanyian dan gerakan tarian, menjadikannya bagian integral dalam ekspresi budaya yang lebih luas.
Perkembangan musik Tongtong tidak hanya mencerminkan perubahan teknis dan artistik, tetapi juga melibatkan pergeseran makna simbolis. Musik ini menjadi sarana untuk mengomunikasikan cerita-cerita kuno, nilai-nilai moral, dan cerita-cerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Pasongsongan yang mata pencahariannya sebagai nelayan.
Musik Tongtong juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial masyarakat. Tradisi berkumpul dan bermain musik Tongtong bersama-sama menjadi cara bagi penduduk desa untuk memperkuat ikatan sosial dan menjaga solidaritas antaranggota komunitas.
Sebagai warisan budaya yang kaya dan berharga, asal-usul musik Tongtong Pasongsongan adalah bagian integral dari sejarah Desa Pasongsongan yang panjang.
Melestarikan Tradisi
Sebagai musik tradisional, tongtong memiliki peran yang sangat penting dalam membangun identitas budaya di Pasongsongan. Sebab, alasan pertama, dalam musik tersebut mengungkapkan makna, cerita, dan nilai-nilai yang telah diteruskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks globalisasi yang semakin berkembang, pemeliharaan tradisi seperti musik tongtong adalah kunci untuk menjaga akar budaya dan menjaga kenangan sejarah lokal yang kaya.
Kedua, musik ini bisa menjadi media pendidikan karakter. Musisi muda yang terlibat dalam memahami dan memelihara musik Tongtong juga mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang kreativitas, kerjasama tim, dan rasa tanggung jawab. Mereka juga dapat memahami pentingnya kerja keras dan dedikasi dalam menjaga tradisi budaya hidup.
Ketiga, pengembangan wisata dan perekonomian lokal. Musik Tongtong, jika dijaga dan dipromosikan dengan baik, dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan yang tertarik untuk menjelajahi budaya lokal. Hal ini dapat memberikan dorongan ekonomi kepada masyarakat Desa Pasongsongan melalui peluang wisata budaya.
Keempat, membentuk generasi berkarakter yang siap menjaga warisan budaya. Generasi muda adalah kunci untuk memastikan bahwa warisan budaya ini tetap ada di masa depan. Mereka adalah pengemban tradisi, dan melalui pemahaman, pelatihan, dan partisipasi mereka dalam musik Tongtong, mereka dapat memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya ini.
Kelima, sebagai penyeimbang ditengah gempuran tren global yang akhir-akhir ini kian menggila.
*Esais adalah budayawan, pelukis dan penyair. Tulisah telah dipublikasikan di berbagai media, lokal dan nasional. Saat ini ia menjadi ketua Lesbumi NU Pasongsongan.