Oleh : Ahmad Junaidi
Alkisah, seorang kakek yang sudah uzur menanam kelapa satu per satu dengan telaten. Setiap hari dia membawa cangkul dan bibit kelapa ke ladangnya, lalu menggali dan menanam dengan sepenuh rasa. Pohon kelapa itu ia siram hingga tumbuhlah. Hampir setiap orang yang melintas di pinggir ladang si kakek bertanya penasaran, “Kenapa menanam pohon kelapa sebanyak ini di usia senja begini?” Si kakek hanya memandang sekilas kepada setiap penanya dan tersenyum indah. Lalu dia terus menanam dan menyiram.
Di rumah, kakek juga tak pernah menjawab ketika anak-anaknya menanyakan mengapa ladang itu mesti ditanami kelapa. Dia hanya berpesan kepada anak-anaknya, “Hiduplah rukun dan siramlah tanaman kelapa itu kelak jika saya sudah tiada.” Anak-anaknya hanya bengong lalu mengangguk. Hingga hari itu benar-benar terjadi. Si kakek pergi dengan damai di atas ambennya yang sederhana namun bersahaja.
Setiap hari kelapa itu terus tumbuh dan tumbuh. Anak-anaknya menyiram dengan penuh bahagia. Beberapa tahun kemudian, kelapa itu mulai berbuah, dan cucu-cucu si kakek mulai bertambah. Cucu si kakek satu per satu lahir ke dunia dan menyunggingkan senyum bahagia. Sementara kelapa itu terus berbuah dan semakin lebat hingga pendapatan keluarga si kakek sangat terpenuhi dari hasil kelapa tersebut.
Begitulah akhirnya kelapa yang ditanam si kakek terus diwariskan hingga generasi entah ke berapa. Hingga kelapa itu benar-benar berdiri kokoh dan berbuah sangat lebat. Sementara anak-cucunya semakin banyak dan beragam. Ada yang menjadi sarjana, dokter, profesor, petani, dan beberapa pejabat negara yang tanpa mereka sadari, semua itu adalah perjuangan si kakek yang dengan penuh cinta mempersiapkan segalanya dengan bekal cinta. Ya, kelapa-kelapa itu. Ya, pohon sangkolan itu. Ya, cinta dan rasa yang tertanam dalam itu.
Sayangnya, entah pada generasi ke berapa, sebagian dari anak cucunya menginginkan pohon kelapa itu ditebang dan dijual mengingat harganya yang begitu mahal untuk dikirim ke luar negeri. Sementara sebagian yang lain tetap mempertahankannya karena selain sebagai tonggak ekonomi keluarga, juga tonggak sosial budaya keluarga. Di sana ada sejarah, ada dinamika, ada problematika, ada cinta, ada duka, ada bahagia, dan ada banyak hal yang tak bisa dibaca hanya dengan logika.
Kedua kubu ini saling bersitegang. Mereka punya alasannya masing-masing. Hingga berhari-hari tak pernah ada keputusan pasti. Yang jelas, mereka yang mengaku berpendidikan tinggi dan berkedudukan adalah orang-orang yang sangat getol ingin segera menebang. Maklumlah, pengalaman dan teman mereka mulai banyak, dan hidup mereka pun mulai dihargai hanya dengan uang. Sementara saudara lainnya yang hidup di desa dan terus merawat peninggalan itu dengan sepenuh cinta tetap bersikukuh mempertahankannya.
Lalu siapa yang harus menang? Apa peran kita di dalamnya? Kita juga harus berpihak kepada siapa?
Ilustrasi : Ai