Esai Sastra

Ketika Perbedaan Tidak Perlu Diperbesar

"Kesalahan pertama adalah ketika kita menyangka bahwa siapa yang tidak berdiri berarti telah mengurangi hak Nabi ﷺ."

Admin Nuvoes 12 May 2026 budaya, agama, kisah, pendapat
Ketika Perbedaan Tidak Perlu Diperbesar

Oleh : Hazmi.fd*

Suatu malam, sebuah majelis maulid dipenuhi manusia. Shalawat mengalun, pujian kepada Rasulullah ﷺ mengisi udara, dan orang-orang datang dengan harapan yang sederhana: pulang membawa hati yang lebih lembut daripada saat mereka datang.

Majelis itu indah. Tetapi seperti banyak pertemuan manusia, ia tidak sepenuhnya kosong dari perbedaan.

Di antara yang hadir, ada beberapa orang yang tidak sepaham dengan sebagian kebiasaan yang biasa dilakukan dalam maulid. Mereka tetap duduk ketika yang lain berdiri pada momen qiyam. Tidak ada teriakan, tidak ada keributan, hanya perbedaan sikap.

Namun seringkali, yang membuat suasana menjadi berat bukanlah tindakan, melainkan tafsir atas tindakan.

Sebagian hadirin mulai merasa tidak nyaman. Dalam hati mereka muncul kesimpulan yang tidak pernah diucapkan dengan jelas: "Kalau tidak berdiri, berarti kurang adab." Dan ketika kesimpulan itu tumbuh, emosi pun ikut tumbuh bersamanya.

Majelis selesai. Banyak yang menunggu bagaimana sikap sang guru, Habib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur. Biasanya, dalam situasi seperti itu, orang berharap ada pembelaan terhadap mayoritas atau teguran terhadap minoritas — karena memang lebih mudah membenarkan yang banyak daripada memahami yang berbeda.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, beliau tidak menegur yang duduk, tidak pula membela yang berdiri. Beliau justru memandang para muridnya dan berkata dengan tenang,

"Kesalahan pertama adalah ketika kita menyangka bahwa siapa yang tidak berdiri berarti telah mengurangi hak Nabi ﷺ."

Lalu beliau bertanya,

"Siapa yang mengatakan itu?"

Pertanyaan itu sederhana, tetapi ia meruntuhkan satu bangunan besar: bangunan asumsi.

Banyak orang terdiam, karena ternyata selama ini, yang membuat mereka marah bukanlah dalil, melainkan dugaan. Bukan ilmu, melainkan kebiasaan yang dianggap mutlak.

Beliau lalu berbicara tentang qawāsim musytarakah — titik temu yang seharusnya dijaga di tengah perbedaan cabang. Tentang bagaimana cinta kepada Nabi ﷺ tidak selalu harus seragam dalam ekspresi. Tentang bagaimana tugas orang berilmu bukan memperlebar jurang, melainkan membangun jembatan.

Beliau mengingatkan bahwa menyatukan hati jauh lebih berat daripada memenangkan perdebatan. Justru, karena berat itulah ia lebih mulia.

Di penghujung majelis, sesuatu yang mengharukan terjadi.

Seorang tokoh tua dari pihak yang berbeda pandangan berdiri. Ia berjalan perlahan, mendekat, lalu mencium kening sang Habib. Dengan suara yang bergetar, ia berkata,

"Seandainya semua ulama seperti engkau, tidak akan ada dua orang pun yang berselisih."

Kalimat itu bukan pujian semata. Ia adalah pengakuan bahwa adab mampu meredam apa yang tidak bisa diselesaikan oleh argumentasi.

Barangkali di situlah pelajaran terbesarnya:

Bahwa cinta kepada Nabi ﷺ tidak diukur dari siapa yang berdiri atau duduk, tetapi dari siapa yang paling mampu menjaga hati saudaranya.

Dan mungkin, di zaman ketika perbedaan begitu mudah menjadi bahan pertikaian, kita lebih membutuhkan penenang daripada pemenang.

Komentar

Tanggapan Pembaca

Komentar pembaca ditampilkan di bawah artikel agar alur baca tetap rapi. Semua komentar dimoderasi redaksi sebelum tayang.

0 komentar tayang

Belum ada komentar yang tayang di artikel ini. Jadilah pembaca pertama yang meninggalkan tanggapan.

Komentar yang masuk tidak langsung tayang. Redaksi akan memoderasi terlebih dahulu agar diskusi tetap sehat dan relevan.