Artikel Unggulan Artikel/Opini

Kemandirian atau Eksploitasi

Kita sedang hidup dalam sebuah era standar ganda yang akut. Sebuah zaman di mana sistem ekonomi global berhasil melakukan “rebranding” besar-besaran: menarik perempuan keluar dari “kerajaannya” untuk dijadikan roda penggerak mesin kapitalisme, lalu menyebut proses tersebut sebagai pembebasan.

Admin Nuvoes 09 May 2026 kajian, diskusi, opini, kemandirian, eksploitasi
Kemandirian atau Eksploitasi

Oleh : Hazmi.fd*

Pernahkah kita merenung, mengapa ketaatan seorang istri kepada suaminya hari ini sering dicap sebagai “perbudakan”, sementara ketundukan total seorang karyawan kepada target perusahaan selama 12 jam sehari justru dipuja sebagai “kemandirian finansial”?

Kita sedang hidup dalam sebuah era standar ganda yang akut. Sebuah zaman di mana sistem ekonomi global berhasil melakukan “rebranding” besar-besaran: menarik perempuan keluar dari “kerajaannya” untuk dijadikan roda penggerak mesin kapitalisme, lalu menyebut proses tersebut sebagai pembebasan.

Pergeseran Loyalitas dalam Lensa Fiqh Tahawwulat

Dalam diskursus “Fiqh Tahawwulat” (fikih yang membaca perubahan zaman), fenomena ini dipandang sebagai pergeseran kesetiaan yang terencana. Al-Habib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur dalam kitabnya, Al-Utruhah, memberikan kritik tajam terhadap realitas ini. Beliau mencatat bahwa loyalitas sejati banyak perempuan masa kini telah berpindah; dari yang seharusnya untuk pasangan dan keluarga, kini menjadi milik pekerjaan dan sumber penghasilan.

Ini adalah ironi. Perempuan didorong untuk mandiri secara ekonomi, namun sering kali harga yang harus dibayar adalah kehancuran unit sosial terkecil: keluarga. Saat ibu menghabiskan energi emasnya di meja kantor dan pulang hanya membawa sisa-sisa kelelahan untuk anak-anaknya, di situlah “madrasah pertama” bagi peradaban mulai runtuh.

Menemukan Jalan Tengah: Kesetaraan Hak vs. Spesialisasi Fungsi

Islam tidak pernah memandang rendah perempuan. Namun, Islam membedakan dengan sangat jernih antara “hak” dan “fungsi”.

Secara Hak

Laki-laki dan perempuan setara. Keduanya memiliki hak atas akses ilmu, hak untuk dihargai secara intelektual, serta kedudukan yang sama di hadapan Tuhan.

Secara Fungsi

Islam menetapkan spesialisasi berdasarkan fitrah biologis.

Memaksakan perempuan untuk mengambil seluruh beban fungsi publik laki-laki atas nama kesetaraan bukanlah sebuah kemajuan, melainkan bentuk eksploitasi baru. Seperti yang tertulis dalam At-Tabshirah Ad-Da’wiyyah, Islam mengatur fungsi-fungsi yang sesuai dengan fitrah dominan masing-masing jenis kelamin agar tercipta keseimbangan (An-Namat Al-Awsat), bukan ketimpangan yang melelahkan.

Parameter Kontribusi: Menjadi “Ratu” Tanpa Kehilangan Makna

Apakah ini berarti perempuan harus terkurung? Sama sekali tidak. Dunia membutuhkan sentuhan intelektual dan kasih sayang perempuan. Namun, kontribusi tersebut harus berdiri di atas tiga parameter utama agar tidak kehilangan kodratnya:

1. Rumah sebagai Takhta Tertinggi

Tidak ada jabatan direktur di perusahaan mana pun yang lebih prestisius daripada posisi seorang ibu di rumahnya. Rumah adalah laboratorium pencetak manusia. Jika perempuan berhasil di luar, namun gagal mencetak generasi di rumah, maka ia sebenarnya sedang membangun istana di atas pasir.

2. Integritas dan Kehormatan

Kontribusi publik perempuan — apakah sebagai guru, dokter, atau ilmuwan — harus tetap berada dalam bingkai menjaga rasa malu (haya’) dan batasan syariat. Jika sebuah karier menuntut perempuan menanggalkan identitasnya sebagai muslimah, maka itu adalah pelecehan terselubung.

3. Prioritas yang Tak Tergantikan

Kesibukan karier atau studi setinggi apa pun tidak boleh mematikan fungsi khidmah (pelayanan) di dalam keluarga. Melayani rumah tangga bukanlah pekerjaan rendah; ia adalah bentuk kemandirian spiritual yang menjaga perempuan dari kerusakan moral akibat kerasnya dunia luar.

Mengambil Kembali Kendali

Kemerdekaan sejati bagi perempuan bukanlah saat ia berhasil menjadi “laki-laki kedua” di pasar kerja. Kemerdekaan sejati adalah ketika ia mampu menguasai takhtanya di rumah, menjaga martabatnya, dan tetap memberikan manfaat bagi umat tanpa harus menjadi budak sistem yang hanya menghargainya lewat angka produktivitas.

Jangan sampai kita terjebak dalam ilusi: bangga menjadi bawahan yang patuh di bawah perintah atasan perusahaan, namun merasa terhina saat menjadi pendamping yang taat bagi imam di rumah sendiri.


*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al Washatiyah Fakultas Syariah wal Qanun, Fiqh wa Ushul. Tulisannya sudah dimuat di beberapa media.

Komentar

Tanggapan Pembaca

Komentar pembaca ditampilkan di bawah artikel agar alur baca tetap rapi. Semua komentar dimoderasi redaksi sebelum tayang.

0 komentar tayang

Belum ada komentar yang tayang di artikel ini. Jadilah pembaca pertama yang meninggalkan tanggapan.

Komentar yang masuk tidak langsung tayang. Redaksi akan memoderasi terlebih dahulu agar diskusi tetap sehat dan relevan.