Ambunten, nuvoes.com – Kiai Muhammad Salahuddin A. Warits, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, di acara do'a bersama untuk keselamatan bangsa yang di adakan oleh (Fortuna) Forum Silaturahmi Guru Ngaji, pada Selasa, (27/10/2026) malam, di Lapangan Sepak Bola Ambunten, mengingatkan, bahwa perjuangan dalam membangun bangsa membutuhkan proses yg sangat panjang.
"Para pinisepuh ingin mengingatkan, proses membangun bangsa kita ini, proses yang berkepanjangan, bukan 17 Agustus, ada sebelum tujuh belas ada setelahnya dan itu perjuangan yg panjang" pesannya.
Menurutnya, perlunya melihat dan memaknai bahwa kemerdekan pada bulan Agustus menempuh tahapan yg sedemikian rupa.
"Edelem bulen Agustus ka'dintoh bedenah proklamasi, makah sebelunah proklamasi ka'dintoh bedeh Sumpah Pemuda, sebelunah Sumpah pemuda ka'dintoh bedeh pendirian Jamiyah Nahdlatul Ulama taun 26, sebelum taun 26 ka'dintoh Nahdlatul Waton" jelasnya.
Kiai muda, yang akrab di sapa Ra Mamak itu, juga mencontohkan para pahlawan yg berjuang, gugur dan syahid bahkan sesudah kemerdekaan diumumkan.
"Sehingganya Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy'ari Kaindoh e taon 47, ketika beliau wafat, itu wafat e delem mekkere ummatta, se ka'dimmah penjajahan belum selesai. Jhuken e luk-guluk, e luk-kuluk caepon mbah epon Kia Nunung ka'dintoh, beliau sampai syahid itu dalam kondisi, dalam organisasi, e dhelem jihad ka'dintoh" tegasnya.
Pewarta: Arief billah