Sumenep, nuvoes.com
Gus Yahya menegaskan bahwa kepemimpinan dalam tubuh Nahdlatul Ulama ke depan harus bersifat meritokratis, terbuka bagi siapa saja, bukan hanya mereka yang berlatar belakang keturunan kiai atau tokoh tertentu.
Hal itu beliau sampaikan saat memberikan sambutan pada pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep masa khidmah 2026–2031 yang digelar di Pon. Pes. Al-Karimiyah Beraji, Sumenep, Sabtu (16/05/26) sore.
"Bukan hanya para Gus, anak tukang becak bisa jadi ketua PCNU kalau mau, nantinya," tegasnya di hadapan ribuan warga Nahdliyin.
Menurut Ketua Umum PBNU itu, hal ini hanya bisa terwujud jika sistem organisasi dijalankan secara objektif dan transparan. Gus Yahya menegaskan bahwa objektivitas berarti penilaian harus didasarkan pada fakta, bukan pada citra atau kepentingan tertentu.
"Supaya semua bisa ikut berkonsolidasi, maka syaratnya sistem konsolidasi itu harus bersifat objektif dan transparan. Objektif artinya didasarkan pada penilaian-penilaian faktual yang tidak ditutupi dengan citra-citra palsu, apalagi ditutupi dengan kebohongan-kebohongan," ujarnya.
Untuk Mendukungnya, beliau memaparkan bahwa PBNU telah menyusun tidak kurang dari 23 peraturan perkumpulan guna merinci norma-norma organisasi yang selama ini banyak tidak tertulis. Selain itu, PBNU juga tengah mengembangkan platform digital berbasis kecerdasan buatan yang akan menjangkau hingga tingkat ranting.
"Orang tidak bisa sembunyi-sembunyi lagi. Orang tidak bisa pura-pura lagi. Akan segera kelihatan mana yang sungguh bekerja, mana yang tidak," pungkasnya.
Turut hadir juga dalam momentum pelantikan tersebut sejumlah tokoh dan pejabat daerah. Di antaranya, Bupati Sumenep, Kapolres Sumenep, pengurus PBNU, PWNU Jawa Timur, serta perwakilan PCNU dari Kabupaten Sampang, Pamekasan, dan Bangkalan.
Pewarta : Arief Billah