Pasongsongan, nuvoes.com – Menara yang merupakan bagian terpenting dari masjid, menurut Agus Sugianto bukan hanya struktur bangunan yang hampa makna. Ketinggiannya yang mencakar langit, ternyata bagi pria yang akrab disapa Pak Agus menyimpan filosofi yang sangat dalam.
"Menara mengajarkan bahwa semakin tinggi posisi seseorang, maka semakin besar pula tanggung jawabnya dalam memahami realitas sosialnya," katanya saat menjadi pemateri dalam dalam kajian rutin yang digelar Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Pasongsongan, Selasa (07/07/2026) di Auditorium KH Wahab Hasbullah, Panaongan, Pasongsongan.
Karena itu, dia mengingatkan agar menara masjid tidak hanya dipahami sebagai simbol kemegahan, melainkan alat Penglihatan sosial dari makna filosofinya.
"Dari ketinggiannya, masjid seharusnya mampu melihat realitas; melihat keluarga yang kesulitan makan, melihat anak-anak yatim yang butuh perhatian, melihat janda yang berjuang sendiri, melihat kaum dhuafa yang sering luput dari perhatian," paparnya.
Tetapi, ketika kemegahan fisik bagunan lebih diprioritaskan, eks Ketua Lakpesdam NU Pasongsoangan khawatir, masjid akan semakin terasing dari realitas sosialnya.
"Banyak masjid hari ini megah secara fisik, tetapi minim fungsi sosial. Menaranya tinggi, tetapi pandangan sosialnya justru pendek. Ia tampak indah dari luar, tetapi kurang terasa kehadirannya bagi masyarakat yang paling membutuhkan," imbuhnya.
Kritik ini, bagi Pak Agus tidak bermaksud merendahkan peran masjid, melainkan untuk mengembalikan ke posisi ideal sebagaimana peran masjid tempo dulu.
"Dalam sejarah Islam, masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat peradaban: tempat pendidikan, musyawarah, distribusi zakat, bahkan solusi atas persoalan sosial. Dengan kata lain, masjid adalah pusat kehidupan. Dan menara adalah simbol kesadaran itu," jelasnya.
Untuk itu, dalam mengoptimalkan fungsi sosial masjid, Kepala SDN Panaongan III itu menawarkan beberapa langkah konstruktif yang bisa menjadi pertimbangan bagi pengelola masjid, di antaranya sebagai berikut:
Pertama, masjid harus memiliki peta sosial jamaahnya. Siapa yang miskin, siapa yang membutuhkan bantuan, siapa yang perlu diberdayakan. Tanpa data, kepedulian hanya menjadi wacana," paparnya.
Kedua, mengoptimalkan fungsi zakat, infak, dan sedekah secara terorganisir dan transparan. Masjid bisa menjadi pusat distribusi yang adil dan tepat sasaran.
Ketiga, menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan, bukan sekadar bantuan sesaat. Program pelatihan, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi harus menjadi bagian dari gerakan masjid.
Keempat, membangun budaya empati di kalangan jamaah. Bahwa datang ke masjid bukan hanya untuk shalat, tetapi juga untuk peduli.
Di akhir penyampaiannya, Pak Agus mengingatkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta, melainkan ia merupakan sistem keyakinan yang juga meliputi hubungan dengan sesama. Untuk itu, dia mengangap penting mengaktualisasikan keimanan dalam bentuk kepedulian sosial sebagaimana filosofi menara masjid.
"Jika menara terus menjulang tinggi, tetapi kemiskinan di sekitarnya tetap tak tersentuh, maka mungkin masalahnya bukan pada bangunan itu. Tetapi pada kita. Barangkali, bukan menaranya yang terlalu tinggi. Melainkan kepekaan kitalah yang terlalu rendah. Dan di situlah, kita perlu belajar kembali untuk melihat sebagaimana seharusnya menara itu mengajarkan kita," pungkasnya.
Kontributor: Ahmad Romdlan